Kategori Artikel

Artikel Populer

PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN KREATIF

 

Oleh : Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.

           I. PENDAHULUAN

      Pembelajaran yang efektif merupakan hal yang selalu dikejar oleh semua kalangan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, terutama oleh para guru.  Sudah sangat banyak penelitian yang dilakukan untuk mencoba merumuskan formula pembelajaran yang efektif. Cakupan penelitian yang dilakukan juga sangat luas, ada yang berfokus pada motivasi siswa, kualitas guru, kondisi kelas, dukungan lingkungan, modalitas belajar, dan lain sebagainya. Dalam paper ini kita akan lebih banyak mengulas hasil penelitian yang berfokus pada interaksi antara siswa dengan guru.

        Lalu, bagaimana dengan pembelajaran yang kreatif? Mengajar secara kreatif jelas berbeda dengan mengajarkan kreativitas. Yang pertama lebih berorientasi pada hal apa saja yang dilakukan oleh guru ketika mengajar, sedangkan yang kedua lebih menekankan pada tujuan agar siswa menjadi individu yang kreatif. Untuk mengajarkan kreativitas itu sendiri, seorang guru harus juga bisa mengajar secara kreatif. Masih banyak diperdebatkan, apakah kreativitas itu “diajarkan” atau “dibiasakan”. Makalah ini tidak akan ikut-ikutan memperdebatkannya. Di samping itu, kreativitas guru bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi kualitas suatu pembelajaran. Bagaimanapun juga, seorang guru tetap harus menguasai bidang ilmunya, dan tahu kapan harus menciptakan situasi yang sesuai (mungkin terkait dengan hal yang kreatif) dengan apa yang diajarkan.

        Makalah ini mencoba mengekplorasi lebih jauh bagaimana karakteristik pembelajaran yang efektif dan pembelajaran yang kreatif. Dari kajian ini diharapkan guru berhasil menciptakan pembelajaran yang efektif (hasilnya bagus) melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif (prosesnya menyenangkan). Siswa yang terbiasa mengikuti pembelajaran yang kreatif akan cenderung lebih mudah berpikir dan bertindak kreatif. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu ide baru, yang berbeda, dan yang unik. Berpikir secara kreatif dapat diartikan sebagai melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan tidak dibatasi oleh aturan-aturan baku yang sudah biasa. Kreativitas akan menghasilkan inovasi. Inilah pentingnya, mengapa pembelajaran yang kreatif sangat bermanfaat untuk masa depan bangsa Indonesia.

          II. PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF

       Boylan dan Bonham (1998) telah melakukan riset yang sangat komprehensif mengenai pembelajaran yang efektif, dan mereka menuliskan 20 karakteristik pembelajaran yang efektif; 8 dari 20 karakteristik ini berkaitan langsung dengan bagaimana guru mengajar di kelas. Artinya, peranan guru untuk terciptanya suatu pembelajaran yang efektif sangatlah besar. Smith (1995) juga menegaskan bahwa belajar merupakan konsekuensi dari pengalaman. Tidak ada “belajar” kalau tidak ada “pengalaman”. Oleh karena itu, supaya suatu pembelajaran efektif, dia berpendapat bahwa pembelajaran haruslah berfokus pada bagaimana menciptakan pengalaman-pengalaman sehingga “kegiatan belajar” muncul secara natural dan melalui tahapan-tahapan yang pasti. 

Untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif, Philip Gurney (2007) menyimpulkan 5 faktor penting yang saling terkait sbb:

  • Pengetahuan, antusiasme, dan rasa tanggung jawab guru terhadap pembelajaran.
  • Aktivitas-aktivitas di kelas yang mendukung kegiatan pembelajaran.
  • Kegiatan-kegiatan penilaian yang mendukung kegiatan pembelajaran melalui pengalaman yang didapat siswa.
  • Umpan balik efektif yang menghidupkan proses pembelajaran di kelas.
  • Interaksi efektif antara guru dan siswa, yang menciptakan suasana yang saling menghargai, mendukung pembelajaran efektif.

Kelima faktor tersebut akan dijelaskan secara lebih detail untuk lebih memahami kaitan antara satu faktor dengan faktor-faktor lainnya.

 Pengetahuan, Antusiasme, dan Rasa Tanggung Jawab Guru terhadap Pembelajaran

Seorang guru seringkali menjadi role-model bagi para siswanya. Seorang siswa yang masih di jenjang SD atau lebih rendah sering menganggap bahwa gurunya adalah sosok yang paling pintar dan paling hebat, bahkan mengalahkan orangtuanya sendiri. Apa kata guru, itulah yang benar. Namun demikian, apakah semua guru dianggap sama oleh siswa? Mengapa tidak semua guru menjadi idola para siswa?

            Mari kita bayangkan seorang guru yang telah menyelesaikan tugasnya, yaitu mengajar di kelas. Apakah guru tersebut telah menunjukkan kualitas performa yang terbaik? Ataukah kualitas performanya hanya sekedar untuk menyelesaikan tugasnya? Ketika seseorang “dipaksa” melakukan suatu tugas atau suatu pekerjaan, ada kemungkinan tugas atau pekerjaan tersebut diselesaikan tetapi tidak dengan cara yang terbaik. Pekerjaan diselesaikan sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Motivasi yang muncul karena paksaan dari luar bisa menyebabkan seseorang menyelesaikan tugas/pekerjaan, tetapi tidak pernah menginspirasinya untuk menyelesaikan tugas/pekerjaan tersebut dengan performa terbaik (Sullo, 2007).

            Sekarang coba ingat ketika Anda berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan Anda sendiri dengan performa terbaik, dengan kualitas kerja yang sangat tinggi. Sudah pasti Anda akan memiliki tingkat kepuasan yang sangat tinggi. Anda akan larut dalam pekerjaan tersebut, dan akan merasa kompeten karena telah sukses mengerjakan pekerjaan tersebut. Semakin Anda mendalami pekerjaan tersebut, semakin banyak hal baru atau cara-cara baru yang Anda pelajari untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam kasus ini, Anda termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaan dengan performa terbaik karena kebutuhan Anda sendiri, bukan paksaan dari pihak lain.   

            Apa yang terjadi ketika guru mengajar di kelas tanpa pengetahuan yang banyak? Apa yang bisa di-sharing ke siswa jika yang dimiliki guru terbatas? Apakah guru seperti ini bisa dijadikan idola oleh para siswa? Tentu saja tidak. Jika pengetahuan guru memadai, proses sharing pengetahuan dengan siswa bisa berjalan dengan baik. Guru bahkan akan menikmati pekerjaan mengajar ini karena bisa mendapatkan “ilmu-ilmu baru” dari para siswa. Pembelajaran di kelas menjadi sangat menyenangkan baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri.

            Antusiasme guru ketika mengajar di kelas akan menginspirasi para siswa untuk “meniru” sikap positif - antusiasme - guru tersebut. Fried (1995) menyimpulkan bahwa contoh sikap antusias yang ditunjukkan oleh para guru akan berpengaruh positif kepada alam pikiran dan semangat para siswa, sehingga para siswa pun akan antusias untuk belajar. Mengajar bukan sekedar transfer informasi dan pengetahuan kepada para siswa, tetapi lebih banyak kepada kegiatan mengajak para siswa untuk mencari suatu jawaban.

            Kesimpulannya, para guru yang dengan antusias mengajarkan suatu materi pelajaran yang ia kuasai dengan sangat baik, dan mengambil tanggungjawab penuh untuk menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya sharing pengetahuan yang menyenangkan, maka ia akan dapat menciptakan suatu pembelajaran yang efektif. Pengetahuan, antusiasme, dan tanggungjawab guru merupakan tiga hal penting syarat terjadinya pembelajaran yang efektif.

 Aktivitas-aktivitas Di Kelas yang Mendukung Kegiatan Pembelajaran

Dalam suatu proses pembelajaran di kelas, siapakah yang belajar? Selain siswa, tentu saja seperti diuraikan sebelumnya, guru juga mungkin belajar hal-hal baru. Namun demikian, tetaplah guru harus menciptakan suasana agar para siswa merasa bahwa mereka sendirilah yang menjadi pemegang kendali proses belajar mereka. Mereka belajar bukan karena diatur oleh guru, tetapi mereka belajar karena motivasi dari dalam diri mereka sendiri. Guru harus memberi kesempatan yang luas agar para siswa bisa belajar atas inisiatif mereka sendiri.

            Bagaimana menciptakan suasana kelas yang mendukung terciptanya kesempatan belajar yang luas untuk para siswa tersebut? Stipek (1996) menyebutkan 6 hal yang dapat dilakukan yang mendukung pembelajaran efektif di kelas, yaitu lingkungan kelas yang memberikan kesempatan dan pengalaman lebih banyak kepada siswa untuk belajar:

  • memberikan beragam kesempatan berbeda bagi para siswa untuk menunjukkan tingkat pemahaman mereka
  • menyesuaikan pembelajaran dengan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman personal siswa
  • memberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi dan eksperimen
  • mendefinisikan kesuksesan belajar berdasarkan kemajuan belajar yang diperoleh
  • lebih menghargai usaha dan kerja keras siswa dalam belajar daripada hanya pada hasil akhir atau jawaban yang benar
  • memandang kesalahan sebagai hal yang biasa dalam belajar

Seorang guru harus bisa mengidentifikasi bagaimana perubahan atau dinamika kondisi kelas yang terjadi. Kondisi kelas hari ini belum tentu sama dengan kondisi kelas kemarin; program yang tahun lalu dijalankan dan berhasil dengan baik, belum tentu dapat dijalankan dengan hasil yang sama tahun ini. Tujuan akhirnya adalah, melalui usaha dan kerja keras guru, kegiatan belajar di kelas menjadi milik siswa sepenuhnya. Di sinilah pentingnya guru membuat perencanaan dan persiapan yang matang untuk suatu pembelajaran. Kegiatan-kegiatan yang dijalankan untuk mendukung proses belajar siswa perlu selalu ditinjau ulang sehingga selalu sesuai dengan perubahan dan perkembangan.     

 

 Kegiatan Penilaian yang Mendukung Belajar Melalui Pengalaman

Banyak yang memahami penilaian sebagai bagian akhir dari proses pembelajaran. Padahal, beberapa model kegiatan penilaian dapat dijadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran itu sendiri. Jika siswa dapat merasakan bahwa kegiatan penilaian yang dijalaninya membantunya memahami materi pelajaran, maka siswa akan terdorong untuk melakukan sendiri penilaian-penilaian mandiri dan atau kelompok bersama siswa lain. Cameron (2002) mengidentifikasi bahwa kegiatan-kegiatan diskusi, belajar kelompok, bermain kuis tebak-tebakan, merangkum, dan debat kelompok ketika dilakukan di kelas akan memberdayakan para siswa sebagai kelompok pembelajar. Kegiatan penilaian harus dipahami sebagai bagian dari proses belajar.

Siswa akan belajar lebih baik ketika mereka mendapatkan umpan balik terhadap apa yang sudah berhasil atau belum berhasil dipelajarinya. Semakin cepat umpan balik diberikan, semakin cepat pula perbaikan kualitas pembelajaran bisa diperbaiki. Guru perlu merancang kegiatan-kegiatan penilaian tertentu yang memberikan umpan balik yang cepat sebagaimana yang diidentifikasi oleh Cameron (2002).

 

Umpan Balik Efektif yang Menghidupkan Proses Pembelajaran Di Kelas.

Masih sejalan dengan uraian pada poin sebelumnya, umpan balik efektif yang diberikan oleh guru pada siswa (tidak terbatas hanya pada hasil penilaian saja), membuat pembelajaran di kelas menjadi lebih hidup, lebih bermakna. Hattie (1999) menyatakan bahwa umpan balik sangat manjur untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Semua umpan balik yang dilakukan oleh guru harus bertujuan mengarahkan agar lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Umpan balik bisa diberikan dengan berbagai cara berbeda karena karakter setiap siswa di dalam kelas juga berbeda-beda, akan tetapi umpan balik harus memiliki sifat fokus, sesuai kondisi yang sebenarnya, tepat waktu, dan terkait dengan pembelajaran.

            Umpan balik efektif bukan saja diberikan oleh guru kepada siswa, tetapi juga oleh siswa kepada guru. Semakin banyak variasi umpan balik yang diterima guru, semakin mudah pula baginya untuk mengembangkan lingkungan kelas yang baik.

 

Interaksi Efektif antara Guru dan Siswa, yang Menciptakan Suasana Saling Menghargai, Mendukung Pembelajaran Efektif

Guru yang efektif pastilah guru yang mengajak siswa-siswanya belajar dalam suatu lingkungan belajar yang  saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain. Eisner  (2002) menyebutkan bahwa teaching is caring exercise (belajar adalah latihan saling mempedulikan). Siswa cenderung akan terlibat di dalam sesuatu yang menarik baginya secara emosional. Guru yang menggunakan pendekatan-pendekatan personal dalam pembelajaran, akan menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif. Lingkungan pembelajaran yang efektif memberikan ruang dan waktu bagi siswa untuk belajar lebih baik. Good learning needs time and patience – pembelajaran yang baik membutuhkan waktu dan kesabaran.

           III. PEMBELAJARAN YANG KREATIF

         Suatu pembelajaran yang efektif, yang dipimpin oleh seorang guru yang efektif, dapat diibaratkan sebagai suatu orkestra musik yang menghasilkan paduan suara yang sangat indah untuk dinikmati. Semua siswa adalah alat musik yang menghasilkan nada yang berbeda-beda tetapi ketika bersatu membentuk suatu simfoni yang indah.

         Jika suatu pembelajaran sudah berjalan dengan efektif, untuk apa lagi pembelajaran juga perlu kreatif? Sir Ken Robinson, seorang pakar mengenai kreativitas, dalam suatu wawancara di tahun 2006 menyatakan bahwa apa yang dilakukan dan dipelajari oleh para siswa di kelas berbeda jauh dengan fakta dunia kerja yang akan dihadapinya. Belajar untuk menjadi lebih kreatif dan lebih mudah beradaptasi sangat penting untuk menyiapkan siswa memasuki dunia kerja saat ini. Banyak perusahaan besar dan sukses di dunia, saat ini mengalokasikan 20% dari waktu kerja karyawannya untuk berpikir kreatif dan mengeksplorasi ide-ide baru.

          Kreativitas bukan lagi monopoli artis dan musisi, tetapi merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai setiap orang. Ini artinya, kreativitas milik semua orang, kreativitas bisa diajarkan, bisa dilatih, bisa dibiasakan (Starbuck, 2006 dan  Hicks, 2015). Kadar kreativitas seseorang akan tergantung pada tingkat stress yang dialaminya. Oleh karena itu, seorang guru perlu mempelajari teknik-teknik relaksasi agar dapat menjaga kestabilan tingkat stressnya.

     Pembelajaran yang kreatif hanya bisa dilakukan oleh guru yang kreatif; dan tentu saja secara tidak langsung akan mengajarkan kreativitas itu sendiri kepada para siswa. Definisi kreativitas menurut Sir Ken Robinson, adalah proses melahirkan ide-ide baru yang bernilai. Ada 2 konsep yang terkait dengan kreativitas, yaitu imajinasi dan inovasi. Imajinasi adalah akar dari kreativitas, yaitu kemampuan menghadirkan sesuatu yang tidak ada (belum ada) ke dalam pikiran kita. Kreativitaslah yang membuat kita mudah berimajinasi. Sedangkan, inovasi adalah realisasi dari imajinasi dalam kehidupan nyata.

      Bagaimana membawa kreativitas ke dalam kelas? Henriksen (2011) meengadakan penelitian untuk disertasi doktoral di Michigan State University, bagaimana praktek kreativitas dijalankan di kelas dengan cara menggali informasi yang lebih detail dari para pemenang The Teacher of the Year Award tahun 2000 – 2010, apa saja pemikiran dan kerja nyata yang sudah dilakukan oleh mereka di dalam kelas. Henriksen menemukan 5 pendekatan kunci yang digunakan oleh para guru  pemenang The Teacher of the Year Award dalam melaksanakan pembelajaran yang kreatif, yaitu:

  • Menghubungkan minat/hobby guru dengan pembelajaran
  • Menghubungkan pelajaran dengan dunia nyata sehari-hari
  • Melatih dan membiasakan pola-pikir kreatif
  • Menghargai kolaborasi untuk melahirkan gagasan-gagasan kreatif
  • Mengambil resiko intelektualitas dengan mencoba pendekatan-pendekatan baru

Hampir mirip dengan apa yang telah disimpulkan oleh Henriksen (2011), Hicks (2015) mengusulkan 5 cara untuk menghadirkan lebih banyak lagi kreativitas di dalam kelas. Membawa kreativitas dalam pembelajaran tidak akan membuat tugas seorang guru menjadi lebih berat, tetapi justru akan menjadikannya lebih menarik. Hal itu akan mengajak siswa lebih terlibat di dalam pembelajaran sehingga motivasi internalnya lebih tinggi. Kelima cara tersebut adalah:

  • Jangan membatasi tugas-tugas hanya dalam satu format, beri kebebasan para siswa untuk menyelesaikan tugas dengan cara yang lebih bebas
  • Alokasikan waktu khusus untuk ajang kreativitas, misalnya 20% dari waktu belajar (seperti yang berlaku di banyak perusahaan modern)
  • Gunakan teknologi informasi dalam tugas-tugas untuk siswa
  • Sesekali gunakan alat peraga atau bahan belajar yang tidak biasa
  • Dorong aktivitas diskusi

Tentu saja, masih banyak cara lain untuk menghadirkan kreativitas di dalam kelas. Seorang guru juga dituntut untuk terus belajar dan mengembangkan ide-ide baru (kreatif). Kreativitas tidak membatasi ide-ide baru. Apa yang sudah disimpulkan oleh Henriksen dan Hicks hanyalah sebagian cara sebagai pancingan untuk para guru lain mencari sendiri cara-cara kreatif lainnya.

 

          IV. KESIMPULAN

         Bagaimana suatu pembelajaran akan berlangsung di dalam kelas sangat bergantung pada bagaimana seorang guru akan mengelola kelas tersebut. Pembelajaran yang kreatif akan cenderung lebih banyak terjadi untuk kelas di mana guru dan siswa sama-sama menempatkan diri sebagai individu yang belajar. Kreativitas dalam pembelajaran diperlukan untuk menjaga daya tarik pembelajaran, yang sekaligus melatih dan membiasakan cara berpikir kreatif kepada para siswa. Tidak ada satu rumus permanen yang menjamin efektivitas dan kreativitas suatu pembelajaran. Guru wajib mengeksplorasi kondisi dan kebutuhan siswa dan sekolah untuk menentukan cara paling efektif dan kreatif dalam menjalankan pembelajaran di kelas.

 

REFERENSI

Boylan, H.R., & Bonham, B.S. (1998, March). Improving developmental education: What we’ve learned from 30 years of research. Paper presented at the National Association for Developmental Education Conference, Detroit, MI.

Cameron, M. (2002). Peer Influences on Learning.

Eisner, E.W. (2002). The Kind of Schools We Need. Phi Delta Kappan, 83.

Fried, R.L. (1995). The Passionate Teacher. Beacon Press, Boston

Gurney, P. (2007). Five Factors for Effective Teaching. New Zealand Journal of Teachers’ Work, Volume 4, Issue 2, 89-98.

Hattie, J. (1999). Influences on Student Learning (Inaugural professorial lecture). University of Auckland

Henriksen, D. (2011). We teach who we are: Creativity and trans-­disciplinary thinking in the practices of accomplished teachers. (Doctoral Dissertation). Retrieved from ProQuest Dissertations and Theses. (3489807).

Hicks, K. (2015). Why Creativity in the Classroom Matters More Than Ever.

(Http://www.edudemic.com/creativity-in-the-classroom)

Robinson, K: Creativity Is In Everything, Especially Teaching

(http://ww2.kqed.org/mindshift/2015/04/22/sir-ken-robinson-creativity-is-in-everything-especially-teaching/)

Smith, F. (1995). Let's Declare Education A Disaster and Get on with Our Lives. Phi Delta Kappan, 76, 584-590.

Starbuck, D. (2006). Creative Teaching: Getting  It Right. Continuum International Publishing Group. London

Stipek, D. J. (1996). Motivation and Instruction. In. D.C. Berliner & R.C. Calfee (Eds), Handbook of Educational Psychology (pp. 85-113). Simon & Schuster McMillan. New York

Sullo, B. (2007).  Activating the Desire to Learn. Association for Supervision and Curriculum Development, Virginia USA.



Scroll